HUMANISME
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Andragogi
MAKALAH
Disusun Oleh:
Aip Sofiyulloh
1505917
DEPARTEMEN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2016
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji syukur
kami panjantkan kepada Allah SWT. Karena berkat dan rahmat-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah.
Banyak hambatan yang kami
hadapi dalam membuat tugas kelompok ini tapi dengan semangat dan kegigihan,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kelompok ini dengan baik.
Makalah ini masihlah
jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini
dapat memberikan informasi dan bermanfaat untuk membangun wawasan dan peningkatan
ilmu pengetahuan bagi penyusun dan kita semua.
Bandung,
5 Maret 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Humanisme
B. Penerapan Teori Humanisme dalam
Pembelajaran
C. Prinsip-prinsip Teori Belajar
Humanistik
BAB III KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Aliran humanisme muncul pada tahun 90-an sebagai reaksi
ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behabvioristik. Sebagai
sebuah aliran dalam psikologi, aliran ini boleh dikatakan relative masih muda,
bahkan beberapa ahlinya masih hidup dan terus-menerus mengeluarkan konsep yag
relevan dengan bidang pengkajian psikologi, yang sangat menekankan pentingnya
kesadaran, aktualisasi diri, dan ha-hal yang bersifat positif tentang manusia.Teori
belajar humanisme bertujuan bahwa belajar adalah untuk memanusiakan manusia.
Proses belajar dianggap berhasil jika telah memhami lingkungan dan dirinya
sendiri. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut
pandang pelakunya bukan dati sudut pandang pengamatnya. Teori belajar ini
sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang ilmu filsafat, teori
kepribadian dan psikoterapi dibanding tentang psikologi belajar. Teori
humanisme lebih mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu
sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep
pendidikan unttuk membentuk manusia yang dicita-citakan serta tentang proses
belajar dalam bentuk yang paling ideal.
Selain teori behavioristik dan
teori kognitif, teori belajar humanisme juga perlu untuk dipahami. Menurut
teori humanisme, proses belajar harus dimulai dan ditunjukan untuk kepentingan
memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori humanisme sifatnya
lebih abstrak dan mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan
psikoterapi dari pada bidang kajian psikologi belajar. Teori humanisme sangat
mementingkan isi yang dipelajari daripada proses belajar itu sendiri. Teori
belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk
membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam
bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada
pemahaman tentang prosesbelajar sebagaimana apa adanya, seperti yang selama ini
dikaji oleh teori-teori belajar lainnya
B. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini
adalah sebagai berikut:
1.
Apa yang dimaksud
dengan Humanisme?
2.
Bagaimana
penerapan teori Humanisme dalam pembelajaran?
3.
Bagaimana
prinsip-prinsip teori belajar Humanistik?
C. Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1.
Menjelaskan apa
yang dimaksud dengan Humanisme
2.
Mendeskripsikan
bagaimana penerapan teori Humanisme dalam pembelajaran
3.
Mendeskripsikan
prinsip-prinsip teori belajar Humanistik
D. Manfaat
1. Teori
a. Sebagai
masukan dalam pembeajaran
b. Sebagai
ilmu baru
2. Praktis
a. Memberi
pemahaman untuk mahasiswa
b. Sebagai
referensi atau rujukan pembelajaran bagi dosen
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Humanisme
Humanisme berasal dari latin, humanis yang berarti manusia, dan isme berarti paham atau aliran. Mangun
Harjana mengatakan, pengertian humanisme adalah pandangan yang menekankan
martabat manusia dan kemampuannya. Menurut pandangan ini manusia bermartabat
luhur, mampu menentukan nasib sendiri dan dengan kekuatan sendiri mampu
mengembangkan diri dan memenuhi kepatuhan sendiri mampu mengembangkan diri dan
memenuhi kepenuhan eksistensinya menjadi paripurna
B. Penerapan
Teori Humanisme dalam Pembelajaran
Aplikasi
teori belajar humanisme ini berusaha memahami prilaku belajar dari sudut
pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Selain itu aliran
humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan
ini melihat kejadian yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan
hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai
potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya memfokuskan
pembelajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini. Kemampuan positif
disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam
domain afektif. Emosi adalah karakteristik yang sangat kuat yang tampak dari
para pendidik beraliran humanisme. Mennurut teori ini tujuan belajar adalah
untuk memanusiakan manusia, proses belajar di anggap berhasil jika anak
memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Penekanan dalam teori ini adalah
penyelidikan efek emosi dan hubungan interpersonal terhadap terbentuknya
prilaku belajar, yang melibatkan intelektual dan emosi sehingga tujuan akhir
belajarnya adalah mengembangkan kepribadian peserta didik, nilai-nilai yang di
anut, kemampuan sosial, dan konsep diri yang berkaitan dengan pencapaian
prestasi akademik. Dengan demikian dapat dirumuskan, tujuan utama para pendidik
dilihat dari teori belajar humanisme adalah membantu anak untuk mengembangkan
dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka
sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi
yang ada dalam diri mereka. Bertitik tolak dari latar belakang itu, maka focus
pembahasan pada artikel ini adalah membahas bagaimana aplikasi teori humanism
itu di terapkan dalam proses pembelajaran.
Aplikasi
teori humanisme lebih menonjolkan kebebasan setiap individu memahami materi
pembelajaran untuk memperoleh informasi/pengetahuan baru dengan caranya
sendiri, selama proses pembelajaran.dalam teori ini peserta didik berperan
sebagai subjek didik, peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah
fasilitator. Peserta didik dalam pembelajaran yang humanis ditempatkan sebagai pusat
(central) dalam aktifitas belajar. Peserta didik menjadi pelaku dalam memaknai
pengalaman belajarnya sendiri. Dengan demikian , peserta didik diharapkan mampu
menemukan potensinya dan mengembangkan potensi tersebut secara memaksimal.
Peserta didik bebas berekspresi cara-cara belajarnya sendiri. Peserta didik
menjadi aktif dan tidak sekedar menerima informasi yang disampaikan oleh guru.
Peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah menjadi fasilitator bagi para
peserta didiknya dengan cara memberikan motivasi dan memfasilitasi pengalaman
belajar, dengan , menerapkan strategi pembelajaran yang membuat peserta didik
aktif, serta menyampaikan materinya pembelajaran yang sistematis (Sadulloh;
2008). Peran guru sebagai fasilitator adalah:
1.
Member
perhatian pada penciptaan suasana awal pembelajaran,
2.
Menciptakan
suasana kelas yang menyenangkan sehingga meningkatkan peserta didik untuk
mengikuti pembelajaran dengan cara menerapakan metode pembalajaran yang
bervariasi,
3.
Mengatur
peserta didik agar bisa berkomunikasi secara langsung secara aktif dengan antar
teman selama proses pembelajaran,
4.
Mencoba
mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang palin luas dan mudah
dimanfaatkan para peserta didik untuk membantu mencapai tujuan mereka,
5.
Menempatkan
diri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan peserta didik
baik secara individu maupun kelompok (guru dijadikan tempat untuk bertanya
peserta didik tanpa peserta didik merasa takut),
6.
Menanggapi
dengan baik ungkapan-ungkapan didalam kelompok kelas dan menerima baik isi yang
bersifat intelektual (tidak penuh dengan kritikan sehingga memotifasi peserta
didik untuk mengekspresikan diri),
7.
Bersikap
hangat dan berusaha memahami perasaan peserta didik ( berempati) dan meluruskan
dianggap kurang relevan dengan cara yang santun,
8.
Dalam
pembelajaran secara kelompok , dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam
kelompok dan mencoba mengungkapkan perasaan serta pikirannya dengan tidak
menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi
yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh peserta didik,
9.
Sebagai
seorang manusia yang tidak selalu sempurna , guru mau mengenali, mengakui dan
menerima keterbatasan-keterbatasan diri dengan cara mau dan senang hati menerima
pandangan yang lebih baik dari peserta didik.
Diharapkan
siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan
meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. Tujuan pembelajaran lebih
kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Menurut Sadulloh adapun proses
yang umumnya dilalui dalam teori Humanisme adalah:
1.
Merumuskan
tujuan belajar yang jelas
2.
Mengusahakan
partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan
positif.
3.
Mendorong
siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif
sendiri
4.
Mendorong
siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
5.
Siswa di
dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri,
melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang
ditunjukkan.
6.
Guru
menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai
secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala
resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7.
Guru
menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai
secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala
resiko perbuatan atau proses belajarnya.
8.
Memberikan
kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
9.
Evaluasi
diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.
Bentuk
aplikasi humanisme dalam pembelajaran berisi bagai mana cara berupaya
menggabungkan keterampilan dan informasi kognitif, dengan segi-segi efektif,
nilai-nilai dan prilaku antar pribadi. Sehubungan dengan itu dibawah ini akan
diterangkan beberapa program dalam aplikasi humanisme dalam pembelajaran.
1.
Confluent
Education Cooperative Learning Confluent Education
Cooperative Learning adalah
pendidikan yang memadukan atau mempertemukan pengalaman-pengalaman afektif
dengan belajar kognitif di dalam kelas. Hal ini merupakan cara yang bagus
sekali untuk melibatkan para siswa secara pribadi di dalam bahan pelajaran.
Sebagai contoh misalnya, guru bahasa Indonesia memberikan tugas kepada para
siswa untuk membaca sebuah novel, katakanlah misalnya tentang “keberanian”,
sebuah novel perang. Melalui tugas itu, siswa-siswa tidak hanya diharapkan
memahami isi bacaan tersebut dengan baik tetapi juga memperoleh kesadaran antar
pribadi yang lebih baik dengan jalan membahas pengertian-pengertian mereka
sendiri mengenai keberanian dan rasa takut. Untuk keperluan itu tugas tersebut
dilengkapi dengan tugas-tugas yang berkait, antara lain:
a.
Mewawancarai
orang-orang yang tahu tentang perang.
b.
Mendengar
musik perang, menulis pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang timbul secara
bebas, dan kemudian menghayatinya dalam kelompok-kelompok yang kecil.
c.
Memperdebatkan
apakah perang itu dapat dihindari ataukah tidak.
d.
Membandingkan
perang saudara dengan sajak-sajak perang.
Melalui partisipasi
dalam kegiatan seperti itu dan membicarakan bagaimana tokoh atau pahlawan
tertentu dalam novel tersebut bergabung dan meniggalkan berbagai kelompok,
mereka sendiri hidup bersama orang lain, kadang diterima kadang ditolak. Novel
tersebut memiliki makna pribadi manakala siswa mulai berfikir tentang bagaimana
mereka bereaksi dalam situasi yang serupa.
2.
Open
Education
Open Education atau proses pendidikan terbuka
adalah proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada murid untuk bergerak
secara bebas disekitar kelas dan memilih aktivitas belajar mereka sendiri.
Menurut Walberg dan Tomas (1972), Open Education itu memiliki delapan kriteria,
yaitu:
a.
Kemudahan
belajar tersedia, artinya berbagai macam bahan yang diperlukan untuk belajar
tersedia, para siswa bergerak bebas di sekitar ruangan, tidak dilarang
berbicara, tidak ada pengelompokkan atas dasar tingkat kecerdasan.
b.
Penuh kasih
sayang, hormat, terbuka dan hangat, artinya menggunakan bahan buatan siswa,
guru menangani masalah-masalah tingkah laku dengan jalan berkomunikasi secara
pribadi dengan siswa yang bersangkutan, tanpa melibatkan kelompok.
c.
Mendiagnosa
pristiwa-pristiwa belajar, artinya siswa-siswa memerikasa pekerjaan mereka
sendiri, guru mengamati dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
d.
Pengajaran,
yaitu pengajaran individual, tidak ada tes ataupun buku kerja.
e.
Penilaian,
ujudnya: guru membuat catatan, penilaian secara individual, hanya sedikit
sekali diadakan tes formal.
f.
Mencari
kesempatan untuk pertumbuhan profesional, artinya guru menggunakan bantuan
orang lain, guru bekarja dengan teman sekerjanya.
g.
Persepsi
guru sendiri, artinya guru mengamati semua siswa untuk memantau kegiatan
mereka.
h.
Asumsi
tentang para siswa dan proses belajar, artinya suasana kelas hangat dan ramah,
para siswa asyik melakukan sesuatu. Meskipun pendidikan terbuka memberikan
kesempatan kepada para siswa untuk bergerak secara bebas de sekitar ruangan dan
memilih aktifitas belajar mereka sendiri, namun bimbingan guru tetap
diperlukan.
3.
Cooperative
Learning
Cooperative Learning atau belajar kooperatif
merupakan fondasi yang baik untuk menigkatkan dorongan berprestasi siswa.
Menurut Slavin dalam Sumanto (1998) Cooperative Learning mempunyai tiga
karakteristik:
a.
Siswa
bekerja dalam tim-tim belajar yang kecil (4-6 orang anggota), komposisi ini
tetap selama berminggu-minggu.
b.
Siswa
didorong untuk saling membantu dalam mempelajari bahan yang bersifat akademik
atau dalam melakukan tugas kelompok.
c.
Siswa
diberi imbalan atau hadiah atas dasar prestasi kelompok.
4.
Independent
Learning Independent Learning atau pembelajaran mandiri adalah proses belajar
yang menuntut murid menjadi subyek yang dapat merancang, mengatur, menontrol
kegiatan mereka sendiri secara bertanggung jawab. Proses ini tidak bergantung
pada subyek maupun metode instruksional, melainkan kepada siapa yang belajar yaitu
murid, mencakup siapa yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari siapa
yang harus mempelajari suatu hal.
C. Prinsip-prinsip Teori Belajar Humanistik
Pendekatan
humanistik menganggap peserta didik sebagai a whole person atau
orang sebagai suatu kesatuan. Dengan kata lain, pembelajaran tidak hanya
mengajarkan materi atau bahan ajar yang menjadi sasaran, tetapi juga membantu
peserta didik mengembangkan diri mereka sebagai manusia.
Keyakinan tersebut telah mengarahkan munculnya
sejumlah teknik dan metodologi pembelajaran yang menekankan aspek humanistik
pembelajaran. (Alwasilah, 1996: 23) Dalam metodologi semacam itu,
pengalaman peserta didik adalah yang terpenting dan perkembangan kepribadian
mereka serta penumbuhan perasaan positif dianggap penting dalam pembelajaran
mereka. Pendekatan humanistik mengutamakan peranan peserta didik dan
berorientasi pada kebutuhan. Menurut pendekatan ini, materi atau bahan ajar
harus dilihat sebagai suatu totalitas yang melibatkan orang secara utuh, bukan
sekedar sebagai sesuatu yang intelektual semata-mata. Seperti halnya guru,
peserta didik adalah manusia yang mempunyai kebutuhan emosional, spritual,
maupun intelektual. Peserta didik hendaknya dapat membantu dirinya dalam proses
belajar mengajar. Peserta didik bukan sekedar penerima ilmu yang
pasif. (Purwo, 1989: 212)
Beberapa prinsip Teori belajar Humanistik:
1.
Manusia mempunyai belajar alami
2.
Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran
dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu
3.
Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi
mengenai dirinya.
4.
Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah
dirasarkan bila ancaman itu kecil
5.
Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman peserta
didik dalam memperoleh cara.
6.
Belajar yang bermakna diperolaeh jika peserta didik
melakukannya
7.
Belajar lancer jika peserta didik dilibatkan dalam
proses belajar
8.
Belajar yang melibatkan peserta didik seutuhnya dapat
memberi hasil yang mendalam
9.
Kepercayaan pada diri pada peserta didik ditumbuhkan
dengan membiasakan untuk mawas diri
10. Belajar
sosial adalah belajar mengenai proses belajar.
Roger sebagai ahli dari teori
belajar humanisme mengemukakan beberapa prinsip belajar yang penting yaitu:
1.
Manusia itu memiliki keinginan alamiah untuk belajar,
memiliki rasa ingin tahu alamiah terhadap dunianya, dan keinginan yang mendalam
untuk mengeksplorasi dan asimilasi pengalaman baru
2.
Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang
dipelajari relevan dengan kebutuhan peserta didik
3.
Belajar dapat di tingkatkan dengan mengurangi ancaman
dari luar
4.
Belajar secara partisipasif jauh lebih efektif dari
pada belajar secara pasif dan orang belajar lebih banyak bila belajar atas
pengarahan diri sendiri
5.
Belajar atas prakarsa sendiri yang melibatkan
keseluruhan pribadi, pikiran maupun perasaan akan lebih baik dan tahan lama
6.
Kebebasan, kreatifitas, dan kepercayaan diri dalam
belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri orang lain tidak begitu
penting. (Dakir, 1993: 64)
BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat menyimpulkan bahwa dalam dunia pendidikan
seorang guru harus bisa membantu muridnya dalam proses belajar, karena siswa
yang satu memiliki pribadi yang berbeda. Jika hal ini tidak dapat di atasi maka
siswa akan sulit dalam melakukan atau terlibat dalam proses belajar.
Pengaplikasian teori ini dalam dunia pendidikan sangatlah membantu. Dengan
teori ini guru dapat mengetahui teknik yang dapat mengembangkan jiwa anak didik
dalam belajar. Seperti yang kita ketahui siswa terkadang sangat sulit terlibat
dalam pembelajarn di kelas dengan berbagai alasan misalnya, karena belum
sarapan, kepanasan, maslah keluarga dan sebagainya. Hal inilah yang perlu
diketahui oleh seorang guru. Dan juga dalam aplikasinya teori humanisme ini
lebih mengutamakan siswa dalam belajar mandiri atau menentukan belajar mandiri
serta adanya kebebasan bergerak atau siswa aktfi, sedangkan guru hanya sebagai
fasilitator, dan memberimotivasi serta arahan dalam belajar, berfungsi juga
sebagai pengawas dalam kegiatan belajar mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Amir, Muhammad. 2015. Aplikasi Teori Humanisme dalam Kegiatan
Pembelajaran.[Online]: http://www.kompasiana.com/amirazhar/aplikasi-teori-humanisme-dalam-kegiatan-pembelajaran_5528f7cbf17e6188258b4581
Kurniawan, Isqal. 2013. Makalah Teori Belajar Humanisme.
[Online]: http://isqalkurniawan.blogspot.co.id/2013/03/makalah-teori-belajar-humanisme.html.
No comments:
Post a Comment