Sunday, May 22, 2016

ARTIKEL: RENDAHNYA MINAT BACA BERPENGARUH TERHADAP KUALITAS BANGSA

RENDAHNYA MINAT BACA BERPENGARUH TERHADAP
KUALITAS BANGSA
Oleh: Aip Sofiyulloh (1505917)

Abstrak
Minat baca masyarakat Indonesia saat ini sangat rendah, karena kurang nya kesadaran tentang  pentingnya membaca yang mempengaruhi kualitas suatu bangsa. Banyak hal-hal positif yang bisa kita dapatkan dari membaca, kita bisa mengetahui sebuah informasi, pesan, dan ilmu. Membaca bukan hanya sekedar kegiatan, melainkan sebuah jalan masuk nya suatu ilmu yang baru, membaca juga merupakan jendela dunia yang dimana kita bisa mengetahui segala informasi dari seluruh dunia. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca adalah adanya faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal tersebut meliputi suatu motivasi yang berasal dari diri sendiri dan ada pula faktor eksternal yaitu faktor penghambat dan faktor pendukung. Dengan motivasi kita bisa membangun kesadaran diri dalam hal membaca karena sebuah motivasi merupakan sebuah dorongan yang ditujukan untuk diri manusia untuk mencapai suatu tujuan. Dalam kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari seberapa banyak orang yang membaca di negara tersebut. Adapun kualitas suatu bangsa juga dipengaruhi oleh tinggi rendahnya minat membaca dalam suatu bangsa. Maka dari itu minat baca mempengaruhi kualitas suatu bangsa.
Kata Kunci: Minat Baca, Kualitas Bangsa.

Pendahuluan
          Membaca merupakan awal dari proses penyampaian pesan, makna, atau maksud dari sebuah bacaan yang dapat memberikan suatu informasi yang sudah ada. Membaca juga merupakan suatu kegiatan positif yang memberikan banyak manfaat, sebuah ilmu bisa didapatkan dengan membaca, maka ada pepatah mengatakan bahwa “membaca merupakan jendela dunia”, dari pepatah tersebut sudah terlihat jelas bahwa membaca bukan hanya seruan tetapi merupakan sebuah jalan masuknya suatu ilmu yang baru.
          Minat baca merupakan suatu keinginan dari diri sendiri dalam hal membaca. Saat ini banyak masyarakat yang kurang menyadari bahwa membaca merupakan hal yang sangat penting, sehingga minat membaca menjadi rendah, mereka lebih memilih untuk mendengarkan atau menonton suatu hal yang bisa dijadikan sumber ilmu daripada membaca.
          Tinggi rendahnya kualitas suatu bangsa dilihat dari cara bangsa tersebut meningkatkan daya saingnya dengan Bangsa lain. Salah satu cara meningkatkan kualitas suatu bamgsa adalah dengan meningkatkan minat membaca, karena membaca merupakan suatu instrumen penting.   

Isi
          Pada zaman sekarang, minat membaca dalam kehidupan masyarakat mulai rendah, diakibatkan karena kurangnya pengertian terhadap manfaat membaca, padahal dengan membaca kita dapat membuka jendela dunia, ketika jendela dunia terbuka, masyarakat Indonesia akan dapat menilat “keluar” sisi-sisi apa yang ada dibalik jendela tersebut. Sehingga cara berfikir masyarakat ankan lebih maju, yang akan mengakibatkan meningkatnya suatu bangsa. Namun sayang sekali masyarakat Indonesia memiliki minat membaca yang cukup rendah. Presentasi minat baca menurut UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) tersebut United Nations Development Proggrame (UNDP) atau Badan Program Pembangunan PBB, merilis bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen, jauh bila dibanding dengan negara tetangga Malaysia 86,4 persen. Berdasarkan hasil penelitian yang sama indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia berada pada posisi 121 dari 187 negara di dunia.
          Kepala Perpustakaan RI Sri Sularsih mengungkapkan, minat baca masyarakat Indonesia sangat minim. Data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS), 91,68 persen masyarakat Indonesia lebih menyukai menonton televisi. Sementara, masyarakat yang memiliki minat membaca hanya 17 persen. Padahal, di Amerika, misalnya, dalam satu tahun rata-rata warganya membaca 20 hingga 50 buku per tahun dan Jepang 20 hingga 30 buku per tahun.
          Berdasarkan data di atas, bisa terlihat jelas bahwa minat baca Bangsa Indonesia masih rendah, mereka jelas lebih mengutamakan menonton tv daripada membaca. Membaca selalu identik dengan buku atau media cetak, namun di zaman sekarang yang sudah serba digital, membaca tidak lagi terpaku pada buku atau media cetak karena semua informasi kini telah tersedia di media elektronik seperti internet dan dunia maya lainnya.
            Dalam upaya menumbuhkan minat baca kita harus memahami dahulu pengertian minat. Minat merupakan dorongan yang muncul dari dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu agar kebutuhannya terpenuhi. Meskipun minat muncul karena kesadaran yang ada dalam diri seseorang tetapi bukan berarti tidak dapat dimunculkan oleh dorongan yang datang dari luar dirinya. Minat dapat dimunculkan melalui motivasi yang dipengaruhi oleh faktor ekstrinstik. Cara menumbuhkan minat baca seseorang antara lain dengan:
1.    Bangunlah Motivasi
Dalam meningkatkan minat baca harus dimulai dengan motivasi diri membaca. bagi saya pandangan dalam meningkatkan motivasu merupakan sebuah keharusan bila kita ingin menguasai dunia. Dengan membaca, pandangan kita menjadi terbuka terhadap hal-hal baru.
2.    Manfaatkan Waktu Menunggu
Waktu menunggu bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca. Waktu menunggu dapat ditemui saat kita menunggu bis, sedang ada di angkot, menunggu seseorang untuk bertemu, atau apapun.
3.    Membeli Buku Setiap Minggu
Korbankan uang saku Anda untuk membeli buku-buku berkualitas atau recommended setiap pekannya, terlepas Anda akan membacanya atau tidak. Dengan membeli buku terus menerus, mau tidak mau Anda pun akan ‘dipaksa’ untuk membaca (karena kalau ga dibaca sayang).
4.    Mengadakan Perlombaan yang Berkaitan dengan Buku
Anda dapat mengadakan perlombaan yang berkaitan dengan buku seperti mendongeng, pidato, ataupun puisi. Karena mau tidak mau mereka harus membaca, selain itu juga dapat menumbuhkan motivasi terhadap diri sendiri.
          Selain menumbuhkan minat baca, kita juga harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca. Faktor tersebut merupakan faktor penghambat dan faktor pendukung:
1.    Faktor Penghambat;
a.    Faktor ekonomi; tingkat pendapatan yang rendah mempengaruhi daya beli seseorang dalam membeli bahan bacaan.
b.    Faktor budaya; umumnya masyarakat lebih senang dengan budaya lisan daripada tulisan. Bahkan munculnya televisi dan internet telah melahirkan masyarakat yang lebih senang mendengar dan melihat gambar.
c.    Sarana membaca yang tersedia masih kurang.
d.    Kurangnya teladan dari orangtua, tokoh masyarakat dalam memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca.
2.    Faktor Pedukungnya;
a.    Adanya lembaga pendidikan yang tersebat dari tingkat dasar hingga tingkat atas.
b.    Adanya berbagai jenis perpustakaan maupun TBM (taman bacaan masyarakat) yang tersebar diseluruh tanah air
c.    Banyaknya media massa cetak
d.    Banyaknya penerbit yang memiliki semangat pengabdian
e.    Adanya kebijakan peerintah baik langsung maupun tidak langsung dalam mendorong dan menumbuhkan minat baca masyarakat.

Metode
Metode yang penulis gunakan adalah metode studi pustaka, dimana metode ini penulis mengumpulkan berbagai literatur dari berbagai sumber. Sumber yang penulis gunakan berasal dari internet dan buku yang berkaitan dengan materi tentang rendahnya minat baca berpengaruh terhadap kualitas bangsa.

Gagasan
          Sebagai bangsa Indonesia harus bisa meningkatkan minat baca, karena dengan membaca kita bisa mendapatkan banyak ilmu dan informasi yang dibutuhkan pada zaman sekarang. Kita bisa meningkatkan minat baca dengan hal yang paling mudah yaitu dengan cara memotivasi diri sendiri, karena dengan motivasi kita bisa mendapat dorongan agar lebih minat membaca, karena bangsa yang berkualitas juga dilihat dari tinggi rendahnya minat membaca negara tersebut. 

Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan diatas kita bisa menarik kesimpulan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih rendah dan itu sangat mempengaruhi kualitas suatu bangsa Indonesia. Adapun faktor pendukung dan penghambat minat baca juga sangat mempengaruhi kualitas bangsa. Berdasarkan survei data, masyarakat Indonesia lebih suka menonton daripada membaca. Oleh karena itu kita harus meningkatkan minat baca dengan cara: 1) membangun motivasi, 2)  memanfaatkan waktu menunggu, 3) membeli buku setiap minggu, 4) mengadakan lomba yang berkaitan dengan buku.

Saran
Masyarakat Indonesia sebaiknya dibudayakan untuk membaca dengan cara menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang menarik minat masyarakat untuk membaca. Bisa juga mengadakan sosialisasi tentang pentingnya membaca untuk meingkatkan kuaitas bangsa.
Adapun kita dapat membuat perpustakaan keliling (PUSLING) yang lebih menekankan kepada anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa, agar dapat diteruskan kepada generasi selamjutnya.

Daftar Pustaka
Holik, Abdul. 2014. Taman Bacaan Masyarakat dalam Rekaman Relawan. Bandung: Alfabeta.
Madya, Adi Putra. 2015. Krisis Minat Baca, Indonesia Dalam Masalah. (Online). Tersedia: http//www.kompasiana.com/andimadyaputra/krisis-minat-baca-indonesia-dalam-masalah_5535a3d66ea8342512da42d2 (22 Mei 2016).
_____. 2015. Minat Baca Masyarakat Rendah. (Online). Tersedia: http://www.republika.co.id/berita/koran/didaktika/15/05/13/noa0s829-minat-baca-masyarakat-rendah (22 Mei 2016).

MAKALAH HUMANISME

HUMANISME

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Andragogi

MAKALAH






Disusun Oleh:
Aip Sofiyulloh
1505917



DEPARTEMEN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2016


KATA PENGANTAR


Alhamdulillah, Puji syukur kami panjantkan kepada Allah SWT. Karena berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah.
Banyak hambatan yang kami hadapi dalam membuat tugas kelompok ini tapi dengan semangat dan kegigihan, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kelompok ini dengan baik.
Makalah ini masihlah jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan informasi dan bermanfaat untuk membangun wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi penyusun dan kita semua.


Bandung,  5 Maret 2016

Penyusun



DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR.. i
DAFTAR ISI. ii
BAB I PENDAHULUAN.. 1
A.   Latar Belakang. 1
B.   Rumusan Masalah. 2
C.   Tujuan. 2
D.   Manfaat 2
BAB II PEMBAHASAN.. 3
A.   Pengertian Humanisme. 3
B.   Penerapan Teori Humanisme dalam Pembelajaran. 3
C.   Prinsip-prinsip Teori Belajar Humanistik. 9
BAB III KESIMPULAN.. 11
DAFTAR PUSTAKA.. iii


BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Aliran humanisme  muncul pada tahun 90-an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behabvioristik. Sebagai sebuah aliran dalam psikologi, aliran ini boleh dikatakan relative masih muda, bahkan beberapa ahlinya masih hidup dan terus-menerus mengeluarkan konsep yag relevan dengan bidang pengkajian psikologi, yang sangat menekankan pentingnya kesadaran, aktualisasi diri, dan ha-hal yang bersifat positif tentang manusia.Teori belajar humanisme bertujuan bahwa belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika telah memhami lingkungan dan dirinya sendiri. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya bukan dati sudut pandang pengamatnya. Teori belajar ini sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang ilmu filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dibanding tentang psikologi belajar. Teori humanisme lebih mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan unttuk membentuk manusia yang dicita-citakan serta tentang proses belajar dalam bentuk yang paling ideal.
 Selain teori behavioristik dan teori kognitif, teori belajar humanisme juga perlu untuk dipahami. Menurut teori humanisme, proses belajar harus dimulai dan ditunjukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori humanisme sifatnya lebih abstrak dan mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi dari pada bidang kajian psikologi belajar. Teori humanisme sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada pemahaman tentang prosesbelajar sebagaimana apa adanya, seperti yang selama ini dikaji oleh teori-teori belajar lainnya
B.  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Apa yang dimaksud dengan Humanisme?
2.    Bagaimana penerapan teori Humanisme dalam pembelajaran?
3.    Bagaimana prinsip-prinsip teori belajar Humanistik?
C.  Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Humanisme
2.    Mendeskripsikan bagaimana penerapan teori Humanisme dalam pembelajaran
3.    Mendeskripsikan prinsip-prinsip teori belajar Humanistik
D.  Manfaat 
1.    Teori
a.    Sebagai masukan dalam pembeajaran
b.    Sebagai ilmu baru
2.    Praktis
a.    Memberi pemahaman untuk mahasiswa
b.    Sebagai referensi atau rujukan pembelajaran bagi dosen

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Pengertian Humanisme
Humanisme berasal dari latin, humanis yang berarti manusia, dan isme berarti paham atau aliran. Mangun Harjana mengatakan, pengertian humanisme adalah pandangan yang menekankan martabat manusia dan kemampuannya. Menurut pandangan ini manusia bermartabat luhur, mampu menentukan nasib sendiri dan dengan kekuatan sendiri mampu mengembangkan diri dan memenuhi kepatuhan sendiri mampu mengembangkan diri dan memenuhi kepenuhan eksistensinya menjadi paripurna
B.  Penerapan Teori Humanisme dalam Pembelajaran
Aplikasi teori belajar humanisme ini berusaha memahami prilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Selain itu aliran humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan ini melihat kejadian yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya memfokuskan pembelajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini. Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif. Emosi adalah karakteristik yang sangat kuat yang tampak dari para pendidik beraliran humanisme. Mennurut teori ini tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia, proses belajar di anggap berhasil jika anak memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Penekanan dalam teori ini adalah penyelidikan efek emosi dan hubungan interpersonal terhadap terbentuknya prilaku belajar, yang melibatkan intelektual dan emosi sehingga tujuan akhir belajarnya adalah mengembangkan kepribadian peserta didik, nilai-nilai yang di anut, kemampuan sosial, dan konsep diri yang berkaitan dengan pencapaian prestasi akademik. Dengan demikian dapat dirumuskan, tujuan utama para pendidik dilihat dari teori belajar humanisme adalah membantu anak untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Bertitik tolak dari latar belakang itu, maka focus pembahasan pada artikel ini adalah membahas bagaimana aplikasi teori humanism itu di terapkan dalam proses pembelajaran.
Aplikasi teori humanisme lebih menonjolkan kebebasan setiap individu memahami materi pembelajaran untuk memperoleh informasi/pengetahuan baru dengan caranya sendiri, selama proses pembelajaran.dalam teori ini peserta didik berperan sebagai subjek didik, peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah fasilitator. Peserta didik dalam pembelajaran yang humanis ditempatkan sebagai pusat (central) dalam aktifitas belajar. Peserta didik menjadi pelaku dalam memaknai pengalaman belajarnya sendiri. Dengan demikian , peserta didik diharapkan mampu menemukan potensinya dan mengembangkan potensi tersebut secara memaksimal. Peserta didik bebas berekspresi cara-cara belajarnya sendiri. Peserta didik menjadi aktif dan tidak sekedar menerima informasi yang disampaikan oleh guru. Peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah menjadi fasilitator bagi para peserta didiknya dengan cara memberikan motivasi dan memfasilitasi pengalaman belajar, dengan , menerapkan strategi pembelajaran yang membuat peserta didik aktif, serta menyampaikan materinya pembelajaran yang sistematis (Sadulloh; 2008). Peran guru sebagai fasilitator adalah:
1.        Member perhatian pada penciptaan suasana awal pembelajaran,
2.        Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan sehingga meningkatkan peserta didik untuk mengikuti pembelajaran dengan cara menerapakan metode pembalajaran yang bervariasi,
3.        Mengatur peserta didik agar bisa berkomunikasi secara langsung secara aktif dengan antar teman selama proses pembelajaran,
4.        Mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang palin luas dan mudah dimanfaatkan para peserta didik untuk membantu mencapai tujuan mereka,
5.        Menempatkan diri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan peserta didik baik secara individu maupun kelompok (guru dijadikan tempat untuk bertanya peserta didik tanpa peserta didik merasa takut),
6.        Menanggapi dengan baik ungkapan-ungkapan didalam kelompok kelas dan menerima baik isi yang bersifat intelektual (tidak penuh dengan kritikan sehingga memotifasi peserta didik untuk mengekspresikan diri),
7.        Bersikap hangat dan berusaha memahami perasaan peserta didik ( berempati) dan meluruskan dianggap kurang relevan dengan cara yang santun,
8.        Dalam pembelajaran secara kelompok , dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok dan mencoba mengungkapkan perasaan serta pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh peserta didik,
9.        Sebagai seorang manusia yang tidak selalu sempurna , guru mau mengenali, mengakui dan menerima keterbatasan-keterbatasan diri dengan cara mau dan senang hati menerima pandangan yang lebih baik dari peserta didik.
Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Menurut Sadulloh adapun proses yang umumnya dilalui dalam teori Humanisme adalah:
1.        Merumuskan tujuan belajar yang jelas
2.        Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
3.        Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
4.        Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
5.        Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
6.        Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7.        Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
8.        Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
9.        Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.
Bentuk aplikasi humanisme dalam pembelajaran berisi bagai mana cara berupaya menggabungkan keterampilan dan informasi kognitif, dengan segi-segi efektif, nilai-nilai dan prilaku antar pribadi. Sehubungan dengan itu dibawah ini akan diterangkan beberapa program dalam aplikasi humanisme dalam pembelajaran.
1.        Confluent Education Cooperative Learning Confluent Education
Cooperative Learning adalah pendidikan yang memadukan atau mempertemukan pengalaman-pengalaman afektif dengan belajar kognitif di dalam kelas. Hal ini merupakan cara yang bagus sekali untuk melibatkan para siswa secara pribadi di dalam bahan pelajaran. Sebagai contoh misalnya, guru bahasa Indonesia memberikan tugas kepada para siswa untuk membaca sebuah novel, katakanlah misalnya tentang “keberanian”, sebuah novel perang. Melalui tugas itu, siswa-siswa tidak hanya diharapkan memahami isi bacaan tersebut dengan baik tetapi juga memperoleh kesadaran antar pribadi yang lebih baik dengan jalan membahas pengertian-pengertian mereka sendiri mengenai keberanian dan rasa takut. Untuk keperluan itu tugas tersebut dilengkapi dengan tugas-tugas yang berkait, antara lain:
a.         Mewawancarai orang-orang yang tahu tentang perang.
b.         Mendengar musik perang, menulis pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang timbul secara bebas, dan kemudian menghayatinya dalam kelompok-kelompok yang kecil.
c.         Memperdebatkan apakah perang itu dapat dihindari ataukah tidak.
d.         Membandingkan perang saudara dengan sajak-sajak perang.
Melalui partisipasi dalam kegiatan seperti itu dan membicarakan bagaimana tokoh atau pahlawan tertentu dalam novel tersebut bergabung dan meniggalkan berbagai kelompok, mereka sendiri hidup bersama orang lain, kadang diterima kadang ditolak. Novel tersebut memiliki makna pribadi manakala siswa mulai berfikir tentang bagaimana mereka bereaksi dalam situasi yang serupa.
2.        Open Education
Open Education atau proses pendidikan terbuka adalah proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada murid untuk bergerak secara bebas disekitar kelas dan memilih aktivitas belajar mereka sendiri. Menurut Walberg dan Tomas (1972), Open Education itu memiliki delapan kriteria, yaitu:
a.         Kemudahan belajar tersedia, artinya berbagai macam bahan yang diperlukan untuk belajar tersedia, para siswa bergerak bebas di sekitar ruangan, tidak dilarang berbicara, tidak ada pengelompokkan atas dasar tingkat kecerdasan.
b.         Penuh kasih sayang, hormat, terbuka dan hangat, artinya menggunakan bahan buatan siswa, guru menangani masalah-masalah tingkah laku dengan jalan berkomunikasi secara pribadi dengan siswa yang bersangkutan, tanpa melibatkan kelompok.
c.         Mendiagnosa pristiwa-pristiwa belajar, artinya siswa-siswa memerikasa pekerjaan mereka sendiri, guru mengamati dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
d.         Pengajaran, yaitu pengajaran individual, tidak ada tes ataupun buku kerja.
e.         Penilaian, ujudnya: guru membuat catatan, penilaian secara individual, hanya sedikit sekali diadakan tes formal.
f.          Mencari kesempatan untuk pertumbuhan profesional, artinya guru menggunakan bantuan orang lain, guru bekarja dengan teman sekerjanya.
g.         Persepsi guru sendiri, artinya guru mengamati semua siswa untuk memantau kegiatan mereka.
h.         Asumsi tentang para siswa dan proses belajar, artinya suasana kelas hangat dan ramah, para siswa asyik melakukan sesuatu. Meskipun pendidikan terbuka memberikan kesempatan kepada para siswa untuk bergerak secara bebas de sekitar ruangan dan memilih aktifitas belajar mereka sendiri, namun bimbingan guru tetap diperlukan.
3.        Cooperative Learning
Cooperative Learning atau belajar kooperatif merupakan fondasi yang baik untuk menigkatkan dorongan berprestasi siswa. Menurut Slavin dalam Sumanto (1998) Cooperative Learning mempunyai tiga karakteristik:
a.         Siswa bekerja dalam tim-tim belajar yang kecil (4-6 orang anggota), komposisi ini tetap selama berminggu-minggu.
b.         Siswa didorong untuk saling membantu dalam mempelajari bahan yang bersifat akademik atau dalam melakukan tugas kelompok.
c.         Siswa diberi imbalan atau hadiah atas dasar prestasi kelompok.
4.        Independent Learning Independent Learning atau pembelajaran mandiri adalah proses belajar yang menuntut murid menjadi subyek yang dapat merancang, mengatur, menontrol kegiatan mereka sendiri secara bertanggung jawab. Proses ini tidak bergantung pada subyek maupun metode instruksional, melainkan kepada siapa yang belajar yaitu murid, mencakup siapa yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari siapa yang harus mempelajari suatu hal.
C.  Prinsip-prinsip Teori Belajar Humanistik
Pendekatan humanistik menganggap peserta didik sebagai a whole person atau orang sebagai suatu kesatuan. Dengan kata lain, pembelajaran tidak hanya mengajarkan materi atau bahan ajar yang menjadi sasaran, tetapi juga membantu peserta didik mengembangkan diri mereka sebagai manusia.
Keyakinan tersebut telah mengarahkan munculnya sejumlah teknik dan metodologi pembelajaran yang menekankan aspek humanistik pembelajaran. (Alwasilah, 1996: 23) Dalam metodologi semacam itu, pengalaman peserta didik adalah yang terpenting dan perkembangan kepribadian mereka serta penumbuhan perasaan positif dianggap penting dalam pembelajaran mereka. Pendekatan humanistik mengutamakan peranan peserta didik dan berorientasi pada kebutuhan. Menurut pendekatan ini, materi atau bahan ajar harus dilihat sebagai suatu totalitas yang melibatkan orang secara utuh, bukan sekedar sebagai sesuatu yang intelektual semata-mata. Seperti halnya guru, peserta didik adalah manusia yang mempunyai kebutuhan emosional, spritual, maupun intelektual. Peserta didik hendaknya dapat membantu dirinya dalam proses belajar mengajar. Peserta didik bukan sekedar penerima ilmu yang pasif. (Purwo, 1989: 212)
Beberapa prinsip Teori belajar Humanistik:
1.        Manusia mempunyai belajar alami
2.        Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu
3.        Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
4.        Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman itu kecil
5.        Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman peserta didik dalam memperoleh cara.
6.        Belajar yang bermakna diperolaeh jika peserta didik melakukannya
7.        Belajar lancer jika peserta didik dilibatkan dalam proses belajar
8.        Belajar yang melibatkan peserta didik seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam
9.        Kepercayaan pada diri pada peserta didik ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri
10.    Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar.
Roger sebagai ahli dari teori belajar humanisme mengemukakan beberapa prinsip belajar yang penting yaitu:
1.        Manusia itu memiliki keinginan alamiah untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu alamiah terhadap dunianya, dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi dan asimilasi pengalaman baru
2.        Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan peserta didik
3.        Belajar dapat di tingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar
4.        Belajar secara partisipasif jauh lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan orang belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri
5.        Belajar atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi, pikiran maupun perasaan akan lebih baik dan tahan lama
6.        Kebebasan, kreatifitas, dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri orang lain tidak begitu penting. (Dakir, 1993: 64)

BAB III

KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat menyimpulkan bahwa dalam dunia pendidikan seorang guru harus bisa membantu muridnya dalam proses belajar, karena siswa yang satu memiliki pribadi yang berbeda. Jika hal ini tidak dapat di atasi maka siswa akan sulit dalam melakukan atau terlibat dalam proses belajar. Pengaplikasian teori ini dalam dunia pendidikan sangatlah membantu. Dengan teori ini guru dapat mengetahui teknik yang dapat mengembangkan jiwa anak didik dalam belajar. Seperti yang kita ketahui siswa terkadang sangat sulit terlibat dalam pembelajarn di kelas dengan berbagai alasan misalnya, karena belum sarapan, kepanasan, maslah keluarga dan sebagainya. Hal inilah yang perlu diketahui oleh seorang guru. Dan juga dalam aplikasinya teori humanisme ini lebih mengutamakan siswa dalam belajar mandiri atau menentukan belajar mandiri serta adanya kebebasan bergerak atau siswa aktfi, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator, dan memberimotivasi serta arahan dalam belajar, berfungsi juga sebagai pengawas dalam kegiatan belajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA


Amir, Muhammad. 2015. Aplikasi Teori Humanisme dalam Kegiatan Pembelajaran.[Online]: http://www.kompasiana.com/amirazhar/aplikasi-teori-humanisme-dalam-kegiatan-pembelajaran_5528f7cbf17e6188258b4581


Kurniawan, Isqal. 2013. Makalah Teori Belajar Humanisme. [Online]: http://isqalkurniawan.blogspot.co.id/2013/03/makalah-teori-belajar-humanisme.html.